sekelumit cerita tentang kelas itu, kelas biasa dengan manusia (semoga) luar biasa. cerita itu bermula hari ini, ketika aku bermula menjadi shadow untuk salah seorang penguhinya. anak lucu dan polos dengan porsi tubuh yang lumayan makan tempat. orangtuanya tidak berani untuk melepasnya sendiri dikelas dengan guru reguler biasa.maka resmilah aku menjadi pendampingnya
hari ini pucaknya, ketika aku pertama kali menjadi shadow. diawali dengan sedikit terlambat, ia sudah duduk dan bercanda dengan para temannya. dan nantinya menghabiskan hari ini dengan senyum ceria di wajahnya. aku senang melihatnya, manis, walaupun capaian belajarnya tidak semanis harapan orangtua. beberapa saat ia marah dengan ejekan dan ketidak mengertian teman-temannya ketika bermain.
memaknai dunia dengan lebih baik, lebih dekat dan lebih bijaksana....dengan ceritam dengan rasa dengan sensasi tawaa, sedikit gundah...sebesar bahagia,,semoga menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk kita, manusia....
Rabu, 03 Februari 2010
Minggu, 24 Januari 2010
aku dan TUHANku
Tuhan
Entah ini sudah yang keberapa kalinya
Aku menjanjikan diriku sendiri
Untuk selalu taat padaMU, untuk mengikuti apa mauMU
Untuk terus sujud dan berdekatan hanya padaMU
Dalam tiap detik yang kupunya dan tersisa dari seluruh nafas umurku
Tuhan,
Entah ini kali ke berapa
Aku terjerambab dalam lubang yang sama
Dalam kemaksiatan mengesampingkanMU
Dengan keegoan yang tinggi berpura-pura tidak mengenalMU
Dan melenggang pasti dengan segala laranganMU
Tapi TUHAN aku belum menyerah
Dalam gemuruh hati ini akibat dosa yang semakin bertumpuk
Aku tahu
rahmatMU lebih besar daripada MurkaMU
maka ijinkan aku TUHAN
mengais sedikit kebaikan
sebagai bekalku membuka pintuMU dan menengok wajahMU yang telah lama kutunggu
amin
aku dan TUHANku
Tuhan
Entah ini sudah yang keberapa kalinya
Aku menjanjikan diriku sendiri
Untuk selalu taat padaMU, untuk mengikuti apa mauMU
Untuk terus sujud dan berdekatan hanya padaMU
Dalam tiap detik yang kupunya dan tersisa dari seluruh nafas umurku
Tuhan,
Entah ini kali ke berapa
Aku terjerambab dalam lubang yang sama
Dalam kemaksiatan mengesampingkanMU
Dengan keegoan yang tinggi berpura-pura tidak mengenalMU
Dan melenggang pasti dengan segala laranganMU
Tapi TUHAN aku belum menyerah
Dalam gemuruh hati ini akibat dosa yang semakin bertumpuk
Aku tahu
rahmatMU lebih besar daripada MurkaMU
maka ijinkan aku TUHAN
mengais sedikit kebaikan
sebagai bekalku membuka pintuMU dan menengok wajahMU yang telah lama kutunggu
amin
Gelisah sebagai alarm diri
Suatu saat hatimu akan merasa gelisah, tak tahu apa yang sedang terjadi atau apa yang akan terjadi. Hanya gelisah saja. Rasanya bukan sedih tapi tak juga bahagia, seakan bingung tapi juga sedikit kelabu. Gelisah…dan tahukah engkau bahwasanya pada saat itu hati kita sedang memberikan kita sebuah tanda atau signal untuk raga dan jiwa kita bersiap akan sesuatu yang terjadi.
Pernahkah engkau mendengar sebuah perkataan dari seorang India, "Tentu, saya tahu seperti apa hati nurani saya. Ia seperti benda dengan tiga sudut di dalam sini," ia meletakkan telapak tangannya di dadanya, "yang tetap tidak bergerak jika saya berbuat baik. Tapi bila saya jahat, benda itu berputar, dan sudut-sudut itu sangat menyakitkan saya. Tetapi jika saya terus-menerus berbuat jahat, lama-kelamaan sudut-sudut itu aus dan tidak menyakiti saya lagi.
Pernahkah engkau mendengar sebuah perkataan dari seorang India, "Tentu, saya tahu seperti apa hati nurani saya. Ia seperti benda dengan tiga sudut di dalam sini," ia meletakkan telapak tangannya di dadanya, "yang tetap tidak bergerak jika saya berbuat baik. Tapi bila saya jahat, benda itu berputar, dan sudut-sudut itu sangat menyakitkan saya. Tetapi jika saya terus-menerus berbuat jahat, lama-kelamaan sudut-sudut itu aus dan tidak menyakiti saya lagi.
Jumat, 01 Januari 2010
Prinsip Dasar Self Hypnosis
Prinsip dasar dari Self Hypnosis adalah “berbicara” dan “memberikan instruksi” kepada diri kita sendiri. Yang dimaksud dengan “diri kita sendiri” dalam hal ini adalah “Pikiran Bawah Sadar”. Selanjutnya diharapkan jika pikiran bawah sadar sudah memahami apa yang kita “instruksi”-kan, maka pikiran bawah sadar ini akan mempengaruhi tindakan kita di kehidupan sehari-hari, mengingat kontribusi dari
pikiran bawah sadar sangat dominan, yaitu 88%.Bagaimana ya caranya “berbicara” atau “memberikan instruksi” kepada pikiran
bawah sadar ?
Pikiran bawah sadar memiliki “gerbang”, dan juga memiliki “bahasa” tersendiri. Oleh karena itu jika kita memiliki kemampuan untuk “membuka” gerbang ini, dan juga kita mampu berkomunikasi dengan “bahasa” yang dipahami oleh pikiran bawah sadar,maka kitapun dapat melakukan pemrograman diri sendiri seperti yang telah dijelaskan di awal. Jadi prinsip dasar dari Self Hypnosis adalah :
Membuka gerbang pikiran bawah sadar
Berbicara dengan pikiran bawah sadar sesuai dengan “bahasa” yang
dipahaminya.
pikiran bawah sadar sangat dominan, yaitu 88%.Bagaimana ya caranya “berbicara” atau “memberikan instruksi” kepada pikiran
bawah sadar ?
Pikiran bawah sadar memiliki “gerbang”, dan juga memiliki “bahasa” tersendiri. Oleh karena itu jika kita memiliki kemampuan untuk “membuka” gerbang ini, dan juga kita mampu berkomunikasi dengan “bahasa” yang dipahami oleh pikiran bawah sadar,maka kitapun dapat melakukan pemrograman diri sendiri seperti yang telah dijelaskan di awal. Jadi prinsip dasar dari Self Hypnosis adalah :
Membuka gerbang pikiran bawah sadar
Berbicara dengan pikiran bawah sadar sesuai dengan “bahasa” yang
dipahaminya.
Menunggu pelangi di seberang sana
Menanti pelangi di seberang sana
Dan menghirup udara dalam kesejukan yang berbeda
Menantikan keeping-keping es yang mencair
Kemudian aku akan menentukan kemana langkahku akan berpijak selanjutnya
Menunggu pelangi di sini
Dalam ruangku yang kadang tak kumengerti
Aku menanti hijau sehingga aku mampu mengambil bijaksana dan damainya
Aku menunggu merah agar kubenamkan sedikit keberanian menyuarakan kebenaran
Aku bersabar dalam biru agar rahasia kehidupan mengajarkanku sesuatu
Dan menghirup udara dalam kesejukan yang berbeda
Menantikan keeping-keping es yang mencair
Kemudian aku akan menentukan kemana langkahku akan berpijak selanjutnya
Menunggu pelangi di sini
Dalam ruangku yang kadang tak kumengerti
Aku menanti hijau sehingga aku mampu mengambil bijaksana dan damainya
Aku menunggu merah agar kubenamkan sedikit keberanian menyuarakan kebenaran
Aku bersabar dalam biru agar rahasia kehidupan mengajarkanku sesuatu
Keyakinan
Aku percaya
Tuhan telah menggariskanku di sini
Dalam tanah yang belum kukenal
Dalam barisan sawah yang cukup luas membentang
Dan akhirnya Tuhan menyajikanku berbagai cerita
Cerita itu dikenal dengan persaudaraan yang membinaku atas dasar keimanan
Ada canda, ada tawa, ada air mata
Diajarkannya aku kerja keras dan semangat pantang menyerah
Dilantiknya aku menjadi salah satu sahabat sekaligus hamba Tuhan yang menyerahkan hidup hanya untuknya
Aku pun mengembara dalam relung-relung
Yang sedikit demi sedikit aku melihat cahaya
Tuhan memberiku satu momen
Di mana aku dikenalkan dengan diriku sendiri
Kemudian aku terpaku
Aku disampaikan pada sebuah pemahaman
Bahwa aku sempurna, begitu juga dengan keyakinan yang kumiliki
Aku tergugu
Detik kemudian berbilang
Aku melaju dan berburu
Pada waktu yang semakin menipis
Pada amal yang masih sekelumit
Pada keinginan untuk membeli syurga bagi orang-orang tercinta
Namun kemudian lajuku menyurut
Nafasku mungkin sesak dalam pacu yang melambat
Langkahku sedikit demi sedikit menggoyah,
Tak tentu arah
Mungkin ini yang dinamakan lawan atas keimanan
Mungkin ini label futur yang sering tersemat di beberapa kondisi
Atau ini yang dikenal dengan patah hati
Kemudian aku bertanya, dengan siapa aku patah hati ?
Untuk siapa kekecawaanku tertuju ?
Bagaimana aku bisa menjadi tak tentu arah
Seorang saudara coba menyejukkanku
“jika kau sedang merasa terkungkung dalam kegelapan, maka segeralah untuk mencari sakelar di dekatmu. Nyalakanlah dan akan kau dapati bahwa cahaya begitu ada dekat denganmu. Mengeluh dan hanya menunggu dalam kegelapan hanya akan membuat jiwamu semakin keruh, sulit untuk mengenali Pelita, meskipun lentera ada di dekat kakimu, di ujung lorong sana.”
Aku kemudian menekur, mencari kata
Meneguhkan jiwa, meski mungkin tak sehebat apa jua
Tuhan telah menggariskanku di sini
Dalam tanah yang belum kukenal
Dalam barisan sawah yang cukup luas membentang
Dan akhirnya Tuhan menyajikanku berbagai cerita
Cerita itu dikenal dengan persaudaraan yang membinaku atas dasar keimanan
Ada canda, ada tawa, ada air mata
Diajarkannya aku kerja keras dan semangat pantang menyerah
Dilantiknya aku menjadi salah satu sahabat sekaligus hamba Tuhan yang menyerahkan hidup hanya untuknya
Aku pun mengembara dalam relung-relung
Yang sedikit demi sedikit aku melihat cahaya
Tuhan memberiku satu momen
Di mana aku dikenalkan dengan diriku sendiri
Kemudian aku terpaku
Aku disampaikan pada sebuah pemahaman
Bahwa aku sempurna, begitu juga dengan keyakinan yang kumiliki
Aku tergugu
Detik kemudian berbilang
Aku melaju dan berburu
Pada waktu yang semakin menipis
Pada amal yang masih sekelumit
Pada keinginan untuk membeli syurga bagi orang-orang tercinta
Namun kemudian lajuku menyurut
Nafasku mungkin sesak dalam pacu yang melambat
Langkahku sedikit demi sedikit menggoyah,
Tak tentu arah
Mungkin ini yang dinamakan lawan atas keimanan
Mungkin ini label futur yang sering tersemat di beberapa kondisi
Atau ini yang dikenal dengan patah hati
Kemudian aku bertanya, dengan siapa aku patah hati ?
Untuk siapa kekecawaanku tertuju ?
Bagaimana aku bisa menjadi tak tentu arah
Seorang saudara coba menyejukkanku
“jika kau sedang merasa terkungkung dalam kegelapan, maka segeralah untuk mencari sakelar di dekatmu. Nyalakanlah dan akan kau dapati bahwa cahaya begitu ada dekat denganmu. Mengeluh dan hanya menunggu dalam kegelapan hanya akan membuat jiwamu semakin keruh, sulit untuk mengenali Pelita, meskipun lentera ada di dekat kakimu, di ujung lorong sana.”
Aku kemudian menekur, mencari kata
Meneguhkan jiwa, meski mungkin tak sehebat apa jua
Keyakinan
Aku percaya
Tuhan telah menggariskanku di sini
Dalam tanah yang belum kukenal
Dalam barisan sawah yang cukup luas membentang
Dan akhirnya Tuhan menyajikanku berbagai cerita
Cerita itu dikenal dengan persaudaraan yang membinaku atas dasar keimanan
Ada canda, ada tawa, ada air mata
Diajarkannya aku kerja keras dan semangat pantang menyerah
Dilantiknya aku menjadi salah satu sahabat sekaligus hamba Tuhan yang menyerahkan hidup hanya untuknya
Aku pun mengembara dalam relung-relung
Yang sedikit demi sedikit aku melihat cahaya
Tuhan memberiku satu momen
Di mana aku dikenalkan dengan diriku sendiri
Kemudian aku terpaku
Aku disampaikan pada sebuah pemahaman
Bahwa aku sempurna, begitu juga dengan keyakinan yang kumiliki
Aku tergugu
Detik kemudian berbilang
Aku melaju dan berburu
Pada waktu yang semakin menipis
Pada amal yang masih sekelumit
Pada keinginan untuk membeli syurga bagi orang-orang tercinta
Namun kemudian lajuku menyurut
Nafasku mungkin sesak dalam pacu yang melambat
Langkahku sedikit demi sedikit menggoyah,
Tak tentu arah
Mungkin ini yang dinamakan lawan atas keimanan
Mungkin ini label futur yang sering tersemat di beberapa kondisi
Atau ini yang dikenal dengan patah hati
Kemudian aku bertanya, dengan siapa aku patah hati ?
Untuk siapa kekecawaanku tertuju ?
Bagaimana aku bisa menjadi tak tentu arah
Seorang saudara coba menyejukkanku
“jika kau sedang merasa terkungkung dalam kegelapan, maka segeralah untuk mencari sakelar di dekatmu. Nyalakanlah dan akan kau dapati bahwa cahaya begitu ada dekat denganmu. Mengeluh dan hanya menunggu dalam kegelapan hanya akan membuat jiwamu semakin keruh, sulit untuk mengenali Pelita, meskipun lentera ada di dekat kakimu, di ujung lorong sana.”
Aku kemudian menekur, mencari kata
Meneguhkan jiwa, meski mungkin tak sehebat apa jua
Tuhan telah menggariskanku di sini
Dalam tanah yang belum kukenal
Dalam barisan sawah yang cukup luas membentang
Dan akhirnya Tuhan menyajikanku berbagai cerita
Cerita itu dikenal dengan persaudaraan yang membinaku atas dasar keimanan
Ada canda, ada tawa, ada air mata
Diajarkannya aku kerja keras dan semangat pantang menyerah
Dilantiknya aku menjadi salah satu sahabat sekaligus hamba Tuhan yang menyerahkan hidup hanya untuknya
Aku pun mengembara dalam relung-relung
Yang sedikit demi sedikit aku melihat cahaya
Tuhan memberiku satu momen
Di mana aku dikenalkan dengan diriku sendiri
Kemudian aku terpaku
Aku disampaikan pada sebuah pemahaman
Bahwa aku sempurna, begitu juga dengan keyakinan yang kumiliki
Aku tergugu
Detik kemudian berbilang
Aku melaju dan berburu
Pada waktu yang semakin menipis
Pada amal yang masih sekelumit
Pada keinginan untuk membeli syurga bagi orang-orang tercinta
Namun kemudian lajuku menyurut
Nafasku mungkin sesak dalam pacu yang melambat
Langkahku sedikit demi sedikit menggoyah,
Tak tentu arah
Mungkin ini yang dinamakan lawan atas keimanan
Mungkin ini label futur yang sering tersemat di beberapa kondisi
Atau ini yang dikenal dengan patah hati
Kemudian aku bertanya, dengan siapa aku patah hati ?
Untuk siapa kekecawaanku tertuju ?
Bagaimana aku bisa menjadi tak tentu arah
Seorang saudara coba menyejukkanku
“jika kau sedang merasa terkungkung dalam kegelapan, maka segeralah untuk mencari sakelar di dekatmu. Nyalakanlah dan akan kau dapati bahwa cahaya begitu ada dekat denganmu. Mengeluh dan hanya menunggu dalam kegelapan hanya akan membuat jiwamu semakin keruh, sulit untuk mengenali Pelita, meskipun lentera ada di dekat kakimu, di ujung lorong sana.”
Aku kemudian menekur, mencari kata
Meneguhkan jiwa, meski mungkin tak sehebat apa jua
Langganan:
Komentar (Atom)